Namun sekarang di Amerika Serikat, anak-anak bahkan sudah mulai masuk sekolah formal ketika berumur empat atau lima tahun. Kebanyakan orang berpikir bahwa lebih cepat masuk sekolah maka lebih banyak yang akan dipelajari. Faktanya, kebijakan itu malah membawa efek samping yang berkepanjangan untuk anak. Perkembangan emosional dan kognitif pada anak melambat, dapat menyebabkan stres dan bahkan mungkin memperburuk keinginan anak untuk belajar.
Bila dibandingkan dengan negara Finlandia, anak-anak baru mulai belajar ketika berumur tujuh tahun. Namun bahkan prestasinya lebih tinggi dari pada AS dalam hal matematika sains dan membaca. Hal ini membuktikan bahwa instruksi didaktik pada usia dini sebenarnya bisa memperburuk kinerja akademis.
Rebecca A. Marcon, seorang profesor psikologi di University of North Florida, memperhatikan kinerja akademik pada anak kelas tiga di SD, sebagian yang telah mendapatkan pendidikan formal pada usia dini dan sebagian yang lain adalah anak-anak yang berlajar sambil bermain. Ketika berada pada semester akhir kelas tiga, anak-anak yang mendapatkan pendidikan formal di usia dini mendapatkan peringkat lebih rendah dibandingkan anak-anak yang pada usia dini mendapatkan pendidikan dengan cara bermain. Peningkatan potensi pada anak melambat ketika ia mendapatkan terlalu banyak pelajaran formal di TK bahkan saat usianya masih sangat muda, tulis Dr. Marcon.
Anak-anak yang berumur kurang dari tujuh tahun akan mengalami perkembangan akademik lebih baik dengan cara bermain. Mereka akan lebih inovatif dan menghasilkan lebih banyak ide karena terbiasa menciptakan suatu hal dengan permainan mereka. Bukan dituntut untuk mendapatkan nilai sempurna berupa angka, atau bahkan membaca sesuatu yang bahkan bukan tulisan tangannya, bukan karyanya.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi para orang tua untuk lebih cermat lagi dalam memilih pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya.
sumber : https://www.nytimes.com/2015/05/17/opinion/sunday/let-the-kids-learn-through-play.html?mcubz=0


0 komentar:
Posting Komentar